Minggu, 29 April 2018

KONSEP BELAJAR SAYYID QUTHB By Ki Slamet

Ki Slamet Blog - Guru SMPIT Annur Menulis
Minggu, 29 April 2018 - 17:15 WIB
Image "Sayyid Quthb" ( Foto : Google )
Sayyid Quthb


Adanya kaitan yang mendalam antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pembentukan pola pikir dan pola sikap keseharian kita.

Generasi sahabat mengetengahkan pandangan tentang belajar :

1. Belajar untuk memahami ( learning how to think )
2. Belajar untuk mengamalkan ( learning how to do )

Untuk mencapai tujuan dari semua itu maka, kita harus belajar untuk menjadi (learning how to be). Artinya, apapun yang kita pelajari harus mampu membentuk pola pikir dan pola sikap kita untuk menjadi manusia yang baik dan itu tercermin dan teraplikasikan dalam hidup keseharian kita. Inilah yang disebut sebagai tranfer of learning.

Referensi :
Dwi Budiyanto, "Propetic Learning"
 

Kamis, 26 April 2018

Pemerintah Diminta Lebih Tanggap Soal Pelestarian Situs Purbakala

Guru SMPIT Annur Menulis
Jumat, 27 April 2018 - 10:34 WIB


Sehubungan dengan maraknya vandalisme dan perusakan situs-situs purbakala, komunitas yang peduli budaya nusantara meminta Pemerintah untuk lebih serius dan lebih tanggap dalam menjaga warisan budaya leluhur itu.

“Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sangat jelas mengamanatkan agar kita memberikan perlindungan terhadap peninggalan-peninggalan bersejarah di sekitar kita,” kata Ketua Yayasan Bawono Toto, BP Karjodihardjo di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Karjodihardjo menegaskan bahwa UU ini memberikan tugas kepada pemerintah, baik di Pusat, maupun di Daerah untuk bahu-membahu menjaga kelestarian situs-situs purbakala ini.

Karjodihardjo menjelaskan bahwa Yayasan Bawono Toto yang dikelolanya memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pelestarian situs, sehingga menjadi tanggungjawabnya untuk mengingatkan semua pihak.

Menurutnya, keberadaan situs purbakala mempunyai nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, dan juga teknologi. Bahkan, situs purbakala harus dilihat sebagai jejak masa lalu sebuah bangsa.
“Dari jejak masa lalu itulah kita bisa melihat bagaimana karakter kita berkembang dan tumbuh, dan memroyeksikan masa depan kita sebagai sebuah bangsa,” kata Karjodihardjo
.
Berdasarkan laporan media Beritagar.id, sejumlah situs diberitakan mengalami vandalusme dan pengrusakan oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Misalnya, aksi corat coret di situs Calonarang, yang diduga terjadi Sabtu (22/7/2017) petang, masih diselidiki oleh polisi.
Namun aksi corat coret itu bukanlah aksi perusakan pertama yang terjadi di situs Calonarang, yang terletak di Dusun Butuh Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Isu perusakan situs Calonarang juga muncul bangunan baru berupa tambahan plesteran semen. Umpak–benda purbakala di situs itu–ditaruh di atasnya, dengan menyatukannya dengan bangunan baru itu. Jelas, keaslian situs itu sudah dirusak.

Bukan cuma itu. Tambahan lainnya tak kalah ajaib: tiga makam yang disebut-sebut sebagai makam Calonarang, makam Ratna Manggali dan makam sang ajudan Calonarang. Padahal sebelumnya tidak pernah ada makam di situs tersebut.

Selain situs Calonarang, Beritagar.id juga mencatar ada sejumlah situs bersejarah lain yang rusak karena beralih fungsi. Di Dusun Kumisik, Desa Lawanganagung, Kecamatan Sugio Lamongan, sebuah situs yang diduga candi telah berubah menjadi makam. 

Situs Petilasan Damarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang juga rusak karena areal di sekitar beralih fungsi menjadi kolam pemancingan ikan.

Aktivitas pembangunan di areal sekitar juga sering menjadi penyebab kerusakan situs bersejarah. Situs budaya Waruga di Desa Kuwil Minahasa Utara, misal, mengalami kerusakan akibat pelaksanaan proyek pembangunan bendungan. Situs gua prasejarah di Kabupaten Tulungagung, contoh lain, terancam rusak akibat penambangan marmer.

Tak sedikit situs bersejarah rusak karena aksi vandalisme. Petilasan raja Thailand, Chulalakron, di kawasan Curug Dago dan situs purbakala Lava Bantal di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman rusak akibat aksi vandal para pemburu batu akik.

Vandalisme juga telah merusak peninggalan sejarah di Liang Nyere, Kutai Timur. Begitu juga dengan situs peninggalan kerajaan Singhasari di Desa Torongrejo, Batu, yang rusak karena dibakar sejumlah orang.

Selain itu, kehancuran situs-situs bersejarah juga bisa disulut oleh penjarahan seperti yang terjadi atas bangunan purbakala Majapahit di kabupaten Mojokerto; atau ketidakcermatan dalam melakukan revitalisasi seperti terjadi pada Komplek Makam Sunan Giri, Gresik; atau karena memang terabaikan seperti menimpa nasib situs manusia purba di Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

“Kami sangat prihatin dengan pemberitaan seperti itu. Karena hal ini berarti aparatur yang bertanggungjawab di bidang kepurbakalaan ini tidak bekerja dengan optimal. Bisa jadi sosialisasi dari pusat ke daerah hingga ke aparat paling ujung, tidak efektif,” kata Karjodijardjo.

Karjodihardjo setuju, kita tidak perlu mencemaskan masa lalu, yang sudah barang tentu berbeda dengan masa kini. Justru, sebaliknya, kesadaran sejarah malah akan membuat kita lebih mantap memilih jalan hari ini, dan merencanakan masa depan kita.

“Kehilangan jejak masa lalu justru membahayakan orientasi kita ke masa depan. Jika tak bisa terlibat dalam merawatnya, setidaknya, janganlah kita terlibat merusak situs-situs purbakala,” tutupnya. (rin)

Sumber :
Hallobogor.com,
Selasa, 8/8/2017|12:35 WIB
 

Rabu, 25 April 2018

"GURU PROFESIONAL" By Drs. Slamet Priyadi

Guru SMPIT Annur Cimande Menulis
Kamis, 26 April 2018 - 00:59 WIB



Guru yang profesional adalah guru yang mampu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif.  Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari:

Pertama

     Memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.

Kedua

      Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Ketiga

     Memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

Keempat

     Memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pengajaran yang relevan.(SP091257)

Posted by Mr. Slamet Priyadi
di Kp. Pangarakan, Bogor
 

KISAH SITTI HAJAR DAN NABI IBRAHIM Oleh : C. Israr

Guru SMPIT Annur Cimande Menulis
Rabu, 25 April 2018 - 16:25 WIB
 
Sumur Zam Zam

Dikisahkan suatu ketika Sitti Sarah istri Nabi Ibrahim yang pertama, marah kepada Sitti Hajar istri Nabi Ibrahim a.s. yang kedua, yang diberikan oleh raja Mesir kepadanya. Sitti Hajar merasa tidak senang dan bersumpah bahwa ia akan segera menjauhi Sitti Sarah, tak mau tinggal se negeri selama-lamanya. Oleh sebab itu Sitti Hajar mendesak kepada Nabi Ibrahim a.s. supaya mereka segera meninggalkan negeri Syam, hijrah ke negeri lain. Karena demikianlah sumpah yang diucapkan, dan dengan pengharapan semoga di negeri yang baru itu mereka akan dapat hidup dengan tenteram.

Ketika itulah Nabi Ibrahim a.s. menerima wahyu dari Tuhan, yang memerintahkan agar dia bersama Sitti Hajar dan puteranya yang masih kecil yaitu Ismail agar segera meninggalkan negeri Syam, berjalan ke arah selatan menuju tanah Mekah sekarang ini. Tetapi negeri Mekah pada waktu itu masih belum ada. Yang ada hanya gurun pasir dan bukit-bukit batu cadas, panas kering tak berair sama sekali, sunyi sepi tak berpenghuni. Kesanalah Nabi Ibrahim a.s. beserta isteri dan anaknya, Ismail pergi.

Beruntunglah di sana tumbuh sebatang pohon kayu yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat berlindung dari panasnya terik matahari. Beberapa lama kemudian setelah Nabi Ibrahim a.s. menyediakan air sisa bekal yang ada ia pun bermaksud meninggalkan Sitti Hajar dan puteranya Ismail yang masih kecil itu di sana.

Nabi Ibrahim a.s. segera berjalan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali menuju ke negeri Syam, tetapi Sitti Hajar yang melihat itu segera berlari-lari menyusulnya sedang puteranya Ismail ditinggalkan di bawah pohon kayu, seraya berseru kepada Ibrahim :

“Wahai suamiku Ibrahim hendak kemanakah? Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di sini? Apa yang bisa kami perbuat di tempat ini?”

Sitti Hajar menangis, hatinya merasa sangat sedih, berulang-ulang ia menahan dengan merayu, membujuk suaminya agar tidak pergi meninggalkan dia dan puteranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim a.s. dengan langkah yang tetap terus berjalan, tidak mau menoleh barang sedikitpun tak mau mendengar tangisan yang menyayat dari isteri dan itu. Sitti Hajar putus harapan untuk menahan suaminya, lalu ia bertanya kepada Nabi Ibrahim :

“Tuhankah yang menyuruh engkau pergi, wahai Ibrahim?”
“Ya!” jawab Nabi Ibrahim.
“Oh..., jika demikian saya percaya, bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kami berdua tinggal di sini. Tuhan pasti akan melindungi kami!” berkata Sitti Hajar.

Setelah itu Sitti Hajar pun pergi meninggakan suaminya kembali menghampiri puteranya, Ismail yang masih tidur di bawah pohon kayu. Sementara itu, Nabi Ibrahim a.s. berjalan terus dengan hati yang tetap dan tabah karena menjunjung tinggi perintah Tuhan. Maka sampailah ia di Baitul Haram, di mana ia bersimpuh sambil menadahkan kedua telapak tangannya, berdo’a ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di wadi, yang tak ada sama sekali tanaman dan tumbuhan, dekat Baitul Haram. Hendaklah engkau jadikan mereka orang yang mendirukan dan melakukan sembahyang. Hendaklah engkau jadikan hati manusia condong kepada mereka, berilah mereka rezeki dengan buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surat Ibrahim ayat 37) Selesai berdoa, ia lalu bangkit melanjutkan perjalannya ke negeri Syam.

Sementara itu Sitti Hajar dan puteranya, sepeninggal Nabi Ibrahim a.s. mengalami penderitaan dan kesukaran yang teramat sangat. Air persediaan habis. Air susu Sitti Hajar pun kering. Betapa sengsara dan dahaganya kedua insan yang tak berdaya itu. Panas terik matahari terasa membakar tubuhnya, namun tak ada stetes pun air yang bisa diminum.  Akan tetapi Sitti Hajar tettap tabah. Ia kuatkan dirinya meski berjalan dengan lunglai karena kehausan, ia terus melangkah mencari air hingga sampai ke kaki bukit Safa. Diangkat tangannya untuk melindungi matanya dari silaunya cahaya matahari yang begitu terik. Ia melihat sekeliling, sejauh mata memandang tak seorang manusia pun yang nampak kelihatan. Di tempat itu hanya padang pasir dan bukit-bukit batu semata. Tidak jauh di hadapannya ada pula sebuah bukit kecil yang dikenal dengan nama bukit Marwah. Lalu Sitti Hajar menuju bukit itu dengan berlari. Tak seberapa lama ia pun berhenti di sana, memandang ke sana-sini, tapi tak juga menjumpai manusia di sana. Akan tetapi ia belum juga berputus asa meski perasaan lelah begitu menderanya, ia terus berlari berulang-ulang dari bukit safa hingga ke bukit marwah. Dan itu diulang-ulangnya sampai tujuh kali. Meskipun demikian tak satupun manusia kelihatan. (Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu rukun haji yang disebut Sa’i. Berlari-lari kecil tujuh kali pulang pergi antara bukit Safa dan Marwah.)

Sitti Hajar terhenyak di kaki bukit Marwah, perasaan letih, lesu, dan serasa tak berdaya lagi untuk menahan haus, lapar yang tak terhingga. Ia menyerah kepada takdir Tuhan. Ketika itulah sekonyong-konyong, ia mendengar ada suara gaib yang memanggil-manggil namanya. Ia pun melihat ke sekeliling, tetapi tak seorang pun nampak kelihatan. Tiba-tiba ia melihat malaikat Jibril yang menampakkan diri sambil mengepak-ngepakkan sayapnya memukul ke tanah lalu menghilang dalam sekejap.

Sitti Hajar mendekati tempat itu. Atas kuasa Tuhan, rupanya tanah yang bekas dipukul-pukul oleh sayap malaikat Jibril itu memancarlah air yang cukup berlimpah. Sitti Hajar membendung air itu agar jangan sampai mengalir ke tempat lainnya. Terhindarlah Sitti Hajar dan puteranya Ismail dari bahaya maut yang menimpanya. Air yang keluar dari lubang bekas pukulan malaikat Jibril itu dikenal dengan nama Air Zamzam.

Suatu ketika melintaslah serombongan kafilah suku Jurhum dari negeri Yaman. Dari jauh mereka melihat burung-burung berterbangan di sekitar bukit Abi Qubeis. Mereka mengetahui bahwa di dekat bukit itu tentu terdapat air. Lalu kafilah itu mendekati tempat tersebut dan memang benar di sana ada air. Mereka pun mendapati Sitti Hajar dan puteranya Ismail ada di sana.  Maka suku Jurhum itu tinggallah di sana hingga turun-temurun. Mereka menjadi penduduk wadi itu yang pertama kali, dan wadi itu menjadi sebuah kota paling terkenal di seluruh dunia dikenal dengan nama Mekah.  

Di tanah Mekah inilah Siti Hajar wafat dalam usia 90 tahun. Sedangkan puteranya Ismail kawin dengan seorang puteri suku Jurhum sampai akhir hayatnya, dan dimakamkan dekat Ka’bah.

Rupanya doa Nabi Ibrahim a.s. dikabulkan Tuhan, sehingga wadi yang kering dan tandus itu pada akhirnya menjadi sebuah kota yang ramai banyak dikunjungi oleh Ummat Islam di seluruh dunia untuk menunaikan ‘ibadah haji.

Referensi :
C.Israr, “Sejarah Kesenian Islam”- Bulan Bintang - Jakarta1978

Pangarakan, Bogor
Sabtu, 16 Januari 2016 – 08:42 WIB
 

Minggu, 22 April 2018

2018, Cimande Tuan Rumah Festival Pencak Silat Cimandean

Guru SMPIT Annur Cimande Menulis
Senin, 23 April 2018 - 10:22 WIB 
 
2018, Cimande menjadi tuan rumah festival silat Cimandean

Senin, 23 April 2018  WIB – Hallobogor.com, Caringin – Cimande bakal menjadi tuan rumah Festival Pencak Silat Cimandean tingkat nasional pada tahun 2018. Festival ini salah satu upaya melestarikan pencak silat aliran Cimandean sebagai warisan seni budaya khas Cimande.

Menjelang dilangsungkannya Festival Pencak Silat Cimandean tahun depan, pada Sabtu (25/3/2017) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Bogor menggelar Festival Pencak Silat Salancaran Cimande.

Festival yang digelar di Padepokan Cimande, Kampung Tarikolot, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor ini, dihadiri pula oleh Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Politisi Partai Gerindra ini memang kerap menggelar kegiatan pencak silat di Paseban, Puncak, Kabupaten Bogor.

Ketua Pusat Pencak Silat Aliran Cimandean (PPSAC), Moch. Darma Sudarma, mengatakan, pencak silat aliran Cimandean tetap terlestarikan dan banyak diminati generasi muda sebagai penerus pelestari warisan leluhur.

“Festival Pencak Silat Salancaran Cimande ini baru ketiga kalinya diadakan. Saat ini diikuti 10 perguruan pencak silat, karena peserta masih di batasi mengingat tempat yang masih belum layak untuk menampung jumlah peserta yang lebih banyak dari ini. Perguruan aliran Cimande yang tersebar di beberapa wilayah di luar Kabupaten Bogor banyak yang meminta untuk mengikuti festival ini,” ungkapnya.

Menghadapi Festival Pencak Silat Cimandean tingkat nasional tahun 2018 nanti, Moch. Darma Sudarma berharap kepada pemerintah segera merehab bangunan Padepokan Cimande agar lebih layak.
Menanggapi hal itu, Kepala Disparbud Kabupaten Bogor Rahmat Sudjana, mengatakan, anggaran untuk pembangunan Padepokan Cimande sebetulnya sudah ada, namun ini masih terbentur beberapa hal yang belum terselesaikan sehingga sampai saat ini dana tersebut belum bisa dikucurkan.

“Saya sangat mengapresiasi kepedulian warga Cimande dalam melestarikan warisan kekayaan budaya yang sangat lengkap ini, paduan seni dan olah raga beladiri yang sangat kental, sehingga pencak silat aliran Cimandean ini tahun depan akan coba ditingkatkan ke taraf nasional,” pungkasnya. (wan)

Sumber :
Hallobogor.com, Senin, 27/3/2017
 

"P U A S A" By Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid

http://kertasinga.blogspot.com-Senin, 05 April 2021-13:02 WIB Definisi Shiyam) 1 Shiyam dan shaum secara bahasa adalah menahan diri dari...

"KONTEN ENTRY BLOG"