Selasa, 04 Februari 2020

The Liang Gie: "FISAFAT KEINDAHAN 9" ESTETIK MATEMAMATIS

Blog Ki Slamet 42: Guru SMPIT Annur Menulis
Rabu, 05 Febuari 2020 - 06.24 WIB


A.           Peranan Matematik dalam Seni

Drs. Slamet Priyadi
Matematik merupakan suatu cabang ilmu yng sangat aktif dalam kehidupan masyarakat. Di mana-mana terlihat penggunaan matematik itu untuk membantu penyelesaian suatu pekerjaan. Bahkan filsuf dan ahli logika Amerika CharlesPeirce (1839-1914) menyatakan bahwa”Every science has a mathematical part, a branch of work that the mathematician is called to do”. ( Setiap ilmu mempunyai suatu bagian matematis, suatu cabang dari pekerjaan yang memerlukan ahli matematik untuk mengerjakannya. ) dengan demikian timbullah astronomi matematis, biologi matematis, ilmu ekonomi matematis, psikologi matematis dan pelbagai cabang ilmu campuran semacam itu. Dan tak mengherankan pula bahwa sekarang dikenal estetik matematis.

Estetik matematis adalah suatu cabang dari estetik ilmiah yang mempelajari dan berusaha menemukan persamaan-persamaan matematis sebagai kaidah untuk menciptakan suatu karya seni atau benda yang indah. Peranan matematik dalam seni arsitektur dan musik sudah menonjol sejak zaman dulu. Salah satu dari empat serangkai pengetahuan yang diajarkan dalam pendidikan orang-orang bebas pada zaman Yunani sampai Abad Tengah ialah musik dalam arti teori harmoni. Teori ini tak lain adalah analisa matematis tentang musik sebagai perimbangan (proportion). Sebagaimana telah diterangkan Bangsa Yunani dulu mengenal istilah ‘harmonia’ untuk menyebut keindahan berdasarkan pendengaran.

Jenis seni yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh matematik ialah seni lukis. Tapi sebaliknya seni ini juga mendorong perkembangan matematik sehingga menumbuhkan suatu cabang baru. Karya-karya seni lukis dulu sampai zaman Renaisance (abad 14-16) tidak mengenal unsur-unsur perspektif, kedalaman, ruang dan bayangan. Semuanya merupakan gambar datar dua dimensi seperti terlihat pada contoh di bawah ini.

                                                                              Gambar 7
Pagina dari Maciejowski Old testament

Contoh lukisan di atas selain kurang indah sesungguhnya juga tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Misalnya tidaklah benar tangga itu dapat diletakkan secara miring demikian tanpa penyangga. Demikian pula menara yang sedang dibangun itu tampak seperti sebidang tembok saja (tiada gambaran tentang volume).

Dengan mulai dimanfaatkannya konsep-konsep matematik oleh para pelukis sejak abad 14, maka lukisan-lukisan tampak lebih hidup, realistis dan juga indah. Sejak masa itu berkembanglah matematik seni lukis (mathematics of painting) yang dipelajari dan dipahami oleh para seniman. Perkembangan seni lukis selanjutnya mendorong ahli-ahli matematik untuk menelaah pengertian-pengertian matematik yang terutama bertalian dengan persoalan-persoalan yang tertentu dalam seni itu. Penelaahan tersebut menimbulkan ilmu ukur proyeksi dalam gambar 17, yaitu cabang matematik yang mempelajari sifat-sifat yang tak berubah dari bangun-bangun geometri yang dipancarkan atau gambar-gambar proyeksi yang diciptakan oleh pelbagai benda apbila dilihat dari sudut-sudut yang berbeda-beda. Dari cabang matematik itu dapat diperoleh kaidah-kaidah tentang perspektif yang sangat berguna dalam seni lukis. Sampai sekarang boleh dikatakan para pelukis dalam menciptakan karya srninya senantiasa memperhatikan perspektif dan konsep-konsep matematik lainnya yang diperlukan. Dan hasilnya dapat dilihat dalam contoh gambar skesa di bawah ini,

Gambar 8
Penerapan kaidah perspektif dan kosep matematik
pada pembuatan sketsa lukisan.

Gambar sketsa di atas jelas memperlihatkan suatu suasana yang hidup dan benar. Misalnya peletakan tangga tidaklah bertentangan dengan dengan akal sehat. Bahkan besarnya kedua tangga berbeda, yakni tangga yang letaknya lebih jauh berukuran lebih kecil adalah sesuai dengan penglihatan mata orang. Demikian pula bangunan itu mencerminkan ruang 3 dimensi dan kedalaman sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

Cara bekerja seniman dari gambar di atas memperhatikan sepenuhnya asas-asas perancangan dan perspektif. Ruang itu dirancang seolah-olah sebuah kotak panjang yang besar dengan pelbagai kotak kecil di dalamnya. Lantai, dinding dan langit-langitnya dibagi-bagi secara tertib dengan menggunakan konsep-konsep geometri seperti empat persegi panjang, garis lingkaran, sudut dan titik proyeksi. titik yang menjadi pusat pancaran dan kunci dari seluruh struktur itu ialah tangan yang diangkat ke atas dari tokoh yang berdiri di ujung kiri. dari tangan itulah memancar seluruh garis yang diperlukan. kesemua ini dapat dilihat dalam gambar rancangan berikut ini,

Gambar 9

Peranan matematik dalam pelbagai jenis seni maupun estetik tampaknya akan senantiasa menjadi lebih besar sesuai dengan semakin berkembangnya ilmu tersebut sebagaimana telah dibahas sebelumnya dalam bab Estetik Ilmiah.

B.           Perbandingan Keemasan

Bangsa Yunani Kuno menganggap keindahan dari karya seni sebagai Keselarasan dan ini tercipta karena diterapkannya –perimbangan-perimbangan tertentu. Oleh karena itu sejak dulu telah dicari kaidah geometri dalam seni yang menjadi kunci dari keindahan itu. Tampaknya Mazhab Pythagoras yang mempergunakan gambar bintang berujung lima (pentagram) sebagai lambang persaudaraan dari anggota-anggotanya berhasil menemukan proporsi yang menjadi kunci keindahan. Lambang pentagram itu mereka namakan ‘Kesehatan’ sebagaimana terlihat pada gambar 10 berikut ini,

Gambar 10

1)           Disediakan garis AB yang akan dipotong.
2)           Dibuat garis panjangnya setengah AB yang tegak lurus pada AB
3)           Tercipta sebuah segitiga siku-siku dengan menghubungkan titi A dengan titik ujung garis ½ AB
4)           Sisi miring dari segitiga itu dikurangi dengan ½ AB.
5)           Sisanya dari titik A dipakai sebagai ukuran panjang untuk memotong AB pada titik C. Dengan ini terciptalah proporsi: BC : AC = AC : AB.

Perimbangan tersebut di atas dapat ditulis menjadi :
-               Rumus  aljabar             :           a / b = b / ( a + b )
-               Rumus aritmetik          :           ½ ( 5 + 1 )
-               Angka perbandingan   :           1 . 1, 6 . . .
( atau  3 : 5 : 8 : 13 dan seterusnya )

Golden ratio adalah suatu perbandingan yang juga adalah sebuah perimbangan (proportion). Setiap proporsi memerlukan 3 unsur, tapi disini cukup hanya 2 unsur a dan b, sedang unsur yang ketiga diperoleh dari penjumlahan kedua unsur itu. Dengan demikian golden ratio bersifat lebih ekonomis daripada perimbangan-perimbangan lainnya. selain itu dari penyelidikan ternyata bahwa bentuk geometri, bangunan gedung atau karya seni apapun yang menerapkan rasio itu paling enak dipandang. Candi Parthenon ( gambar 1) dibangun dengan mempergunakan perbandingan 1 : 1,6 untuk ukuran tinggi terhadap lebarnya. Demikian pula ukuran pintu, jendela, meja bola tojok, pigura dan pagina buku kebanyakan memakai pula perbandingan tersebut. Karena sifatnya yang estetis itu dalam abad 19 perbandingan tersebut diberi nama “Golden Section” atau golden cut yang berarti belahan keemasan.
Sebuah deret dari bilangan-bilangan untuk mengembangbiakkan hubungan-hubungan yang dikaitkan dengan golden ratio telah dikemukakan oleh ahli matematik Leonardo dari Pisa yang dikenal juga sebagai Fibonacci (1175-1230). Beliau menemukan bahwa apbila disusun suatu deretan bilangan sedemikian hingga setiap bilangan merupakan jumlah dari 2 bilangan yang mendahuluinya, maka perbandingan antara 2 bilangan yang berturut-turut akan mendekati golden ratio. Deret Fibonacci itu ialah 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21 dan seterusnya. Ada ahli ilmu hayat yang berpendapat bahwa deret seperti di atas sering muncul dalam bentuk-bentuk kehidupan tumbuh-tumbuhan.

C.           Kesetangkupan Dinamis

Suatu konsep matematik lainnya dipergunnakan sehungga menjadi sebuah styl  (styl of Disign) dalam karya seni.  Styl itu oleh Jay Hambidge dari Yale School of fine arts diberi nama dynamic symetry (kesetangkupan dinamis). Ini didasarkan pada pembagian dari sesuatu empat persegi panjang dengan menggunakan garis-garis diagonal sehingga terbentuk empat persegi panjang lainnya yang lebih kecil tapi mempunyai perbandingan yang sama dengan empat persegi induknya. Empat persegi bentukan itu dapat pula menciptakan empat persegi panjang yang lebih kecil lagi tapi dengan ratio yang tetap sama. Demikian seterusnya.

Tata langkah menciptakan dynamic symmetry itu adalah sebagai berikut :

Gambar 11

1)           Disediakan empatpersegi panjang ABCD
2)           Dibuat diagonal AC
3)           Dibuat lagi diagonal dari titik B yang tegaklurus diagonal AC dan diteruskan sehingga menyentuh sisi CD pada titik E.
4)           Dari E itu dibuat sisi EF sehing terbentuk empat persegi BCEF.

Empatpersegi BCEF itu mempunyai perimbangan yang sama terhadap terhada empatpersegi ABCD (induknya) karena AD/CD = BF/EF. Kedua ratio ini adalah sama karena sudut A CD = sudut BEF dan dengan demikian kedua segitiga siku-siku ACD dan BEF adalah sebangun pula. Apabila empat persegi BCEF akan dibagi lebih lanjut untuk menciptakan suatu empatpersegi lagi yang proporsinya tetap sama, maka dari titik pertemuan antara diagonal AC dengan sisi EF ditarik garis GH yang tegaklurus pada garis BC. Empatpersegi baru CEGH adalah empatpersegi panjang yang dimaksudkan.

Menurut penyelidikan Hambidge ( Dynamic Symmetry in Composition ) penggunaan styl kesetangkupan yang dinamis itu memungkinkan Bangsa Yunani dulu mencapai perimbangan yang indah pada candi, pahatan dan jembanggan mereka. Kesamaan proporsi dari empatpersegi panjang yang disusun itu dianggap memberikan keselarasan dan daya hidup pada lukisan-lukisan yang menerapkan styl itu. Sebagai contoh dari penerapan tersebut ialah lukisan George Bellows di bawah ini yang memperoleh hadiah pertama dalam pameran seni internasional 1922 di Amerika Serikat.

Gambar 12
Eleanor, Jean, and Anna

D.          Ukuran Estetis

Suatu usaha baru untuk menelaah estetik secara matematis dan menciptakan sebuah teori matematis tentang seni indah telah dirintis oleh seorang ahlimatematik Amerika/ David Birkhof (1884-1944). Dalam 1928 beliau mengemukakan teorinya tentang ukuran estetis (aesthetic measure) dalam kongres internasional matematik di Bologna. Menurut Birkhof estetik adalah cabang pengetahuan yang terutama berhubungan dengan perasaan estetis (yakni perasaan intuitif tentang nilai) dan benda-benda estetis yang menimbulkan perasaan itu. Mengenai ciri-ciri khusus dari sesuatu kelas benda seni yang mempunyai nilai estetis, Birkhof membenarkan asas lama tentang kesatuan dalam keanekaragaman (unity in variety) dan batasan-batasan keindahan keindahan yang dirumuskan oleh filsuf Belanda Frans Hemsterhuis dalam 1769 sebagai “that which gives us the greatest number of ideas in the shortest space of time” ( sesuatu yang memberi kita jumlah buah pikiran yang terbanyak dalam jangka waktu yang terpendek).

Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut di atas Birkhof berpendapat bahwa pengalaman estetis seseorang terdiri dari 3 tahap dengan faktor-faktornya yang dapat diukur, yakni :

1)           suatu usaha permulaan untuk memperhatikan dan mencerap benda estetis yang meningkat dalam perimbangannya dengan keruwetan ( complexity, disingkat C ) dari benda itu.
2)           Perasaan tentang nilai atau ukuran estetis (aesthetic Measure , disingkat M) yang mengganjar usaha di atas.
3)           Kesadaran bahwa benda itu mempunyai ciri berupa sesuatu keselarasan, kesetangkupan atau tata tertib (order, disingkat O) tertentu yang penting bagi adanya efek estetis.

Dari analisa terhadap pengalaman estetis itu dan dengan penjelasan-penjelasan dari suatu psikologi, Birkhof menciptakan rumus matematis untuk menghitung perbandingan dan ganjaran estetis terhadap usaha memberi perhatian (ratio of aesthetic reward to effort attention) seperti berikut :

O
M  =   
C

Rumus itu mengandung makna bahwa ukuran estetis  ( M ) ditentukan oleh kepadatan dari hubungan-hubungan tata tertib dalam benda estetis. Perasaan intuitif tentang nilai timbul karena taraf istimewa dari hubungan-hubungan yang selaras dalam  benda itu. Atau dengan kata-kata lain tata tertib ( O ) memperbesar perasaan estetis, sedang keruwetan ( C ) menurunkan perasaan tersebut. ukuran estetis itu merupakan angka indeks yang dapat dipergunakan untuk membanding-bandingkan benda-benda estetis yang termasuk dalam kelompok yang sama guna menentukan nilai estetisnya masing-masing.

Dalam perkembangan berikutnya  Birkhof menerapkan rumusnya untuk mempelajari pelbagai benda estetis. Penyelidikannya yang terkenal ialah terhadap ukuran estetis dari 90 bangun geometri segibanyak (polygonal forms). Untuk menghitung nilai masing-masing segibanyak itu faktor tata tertib (Order) diperinci lebih lanjut dalam unsur-unsur lainnya seperti misalnya kesetangkupan tegak, keseimbangan dan bentuk-bentuk yang tak memuaskan (umpamanya jarak sisi-sisi yang terlalu kecil, sudut yang mendekati 0 atau 180 derajat dan arah-arah yang terlampau berselang-seling). Masing-masing unsur itu diberi angka  tertentu untuk keperluan penghitungan nilai dari setiap polygonal form, misalnya apabila suatu bangun mengandung simetri tegak maka nilai unsur ini = 1, kalau unsur ini tidak ada maka nilainya adalah 0, atau unsur keseimbangan = - 1 kalau polygon itu tampak akan roboh ke salah satu isinya.

Dengan tatacara demikian itu Birkhof menentukan nilai M dari – 90 bangun segibanyak yang diselidikinya. Hasil penyelidikannya  sebagai sekedar contoh untuk 6 buah yang  nilainya tertinggi (yakni menarik dan menimbulkan perasaan estetis) dan 6 lagi yang nilainya terendah dapat dilihat pada gambar 13 di bawawah ini :

Gambar 13
Contoh gambar hasil penyelidikan Birkhof
mengenai aestethetic measure dari bangun segibanyak

teori dan tatacara penelaahan dari Birkhof di atas sebagaimana halnya dengan eastetik eksperimentil yang dikemukakan oleh Fechner tidak memperoleh penerimaan luas dari para ahli estetik maupun seniman. Tapi ini tidak berarti bahwa matematik tidakbisa mempunyai peranan penting dalam bidang estetik maupun seni. Penelitian yang lebih lama dan mendalam masihperlu dilakukan untuk mengembangkan estetik matematis.

SELESAI !


    Ki Slamet 42  
Rabu, 05 Febuari 2020 – 24.00 WIB
R e f e r e n s i :
The Liang Gie, GARIS BESAR ETETIK (Filsafat Keindahan)
Fakultas Fisafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta 1976

Minggu, 02 Februari 2020

"TEORI SENI" By The Liang Gie

Blog Ki Slamet 42: Guru SMPIT Annur Cimande Menulis
Senin, 03 Febuari 2020 - 24.00 WIB 

 
A.           Teori Bentuk


Filsafat seni membahas pula pelbagai teori tentang seni. Teori-teori itu pada umumnya tergolong dalam pengertian teori umum tentang seni (general theory of art). Di samping itu ini sesungguhnya ada teori khusus (specivic theory atau special theory) tentang masing-masing jenis atau ragam seni. Misalnya Aristoteles pernah mengembangkan teori tentang tragedi dan untuk teori khusus itu dipergunakannya istilah poetics. Kini istilah itu tampaknya dapat diterima untuk menyebut suatu teori khusus tentang jenis-jenis seni apa pun, seperti umpamanya poetic of music (teori khusus tentang musik) atau poetic of music (teori khusus tentang musik) atau poetic of dance (teori khusus tentang tari).

Jika dalam teori keindahan dipersoalkan apakah keindahan itu sesuatu kwalita obyektif dari benda ataukah hanya tanggapan subyektif sipengamat ? Maka sejajar dengan itu ada dua teori seni yang membahas apakah seni itu suatu bentuk murni (pure form) atau suatu pengungkapan (expression) sesuatu yang ada dalam diri seseorang. Teori yang pertama terkenal sebagai formalis theory (teori bentuk) yang didukung sepenuhnya oleh penulis seni Inggris Clive Bell (1881 – 1964) dalam bukunya berjudul “Art”. Menurut beliau segenap seni penglihatan dan musik sepanjang masa mempunyai significant form (bentuk penting atau bentuk yang bermakna) sehingga seni tersebut dihargai orang. Tapi Bell tidak mengemukakan ciri-ciri dari bentuk yang demikian itu. Beliau hanya merumuskan bahwa significant  form adalah bentuk dari karya seni yang menimbulkan tanggapan berupa perasaan estetis (Aesthetic emotion) dalam diri seseorang. Dan sebaliknya perasaan estetis adalah persaan yang digugsh oleh significant  form. Menurut teori bentuk itu “Pokoksoal”, tema atau dalil moral mau pun isi dari suatu karya seni tidaklah penting untuk penghargaan terhadap karya seni. Jadi dalam pertentangan antara bentuk dengan isi, teori formalis menekankan mutlaknya bentuk untuk tercapainya penikmatan estetis.

B.           Teori Pengungkapan
Teori bentuk mendapat tantangan dari teori pengungkapan tentang seni ( expression theory art ). Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an exoression of human feeling” ( Seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seseorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.

Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedetto Croce
( 1886 – 1952 ) dengan karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “Aesthetics as Science of expreeion and general Linguistic.” Beliau antara lain menyatakan bahwa “Art is expression of impression” ( Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan. )  Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang mengungkapkan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengamalan estetis seseorang tidak lain adalah ekpresi dalam anggaran angan-angan. Teori Croce yang tidak banyak menghiraukan karya seni yang diwujudkan keluar terasa kurang memuaskan bagi banyak ahli estetik.

Seorang tokoh lainnya dari teori pengungkapan adalah Leo Toltoy. Pendapatnya tentang pengertian seni telah dikutip pada uraian sebelunya. Dalam karyanya What is Art? Itu beliau menegaskan sebagai berikut :

“To evoke in oneself s feeling one has once experienced and having evoked it in oneself then by means of movements, lines, sounds, or forms expressed in word, so transmit that feeling that others experience the same feeling – this is the activity of art.”
( Memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasan itu sehingga orang-orang lain mengalami persaan yang sama – ini adalahkegiatan seni. )

C.           Teori Metafisis
Teori seni yang bercorak metafisi merupakan salah satu teori yang tertua, yang berasal dari Plato yang karya-karya tulisnya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukan suatu teori peniruan (imitation theory) ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalihkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi, ini yang merupakan cerminan semu dan mirip dengan realita Ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (tiruan) dari realita duniawi. Sebagai contoh Plato Plato mengemukakan ide keranjangan yang abadi, asli dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membikin ranjang dan kayu yang merupakan imitasi dari ide tertinggi ke-ranjang-an itu. Dan akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarnya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut konsepsi Plato.

Dalam zaman modern suatu teori seni lainnya yang juga bercorak metafisis dikemukakan antara lain oleh filsuf Arthur Schopenhauer (1788 – 1860). Menurut beliau seni adalah suatu bentuk dari pemahaman terhadap realita. Dan realita yang sejati ialah suatu keinginan (will) yang semesta. Dunia obyektif sebagai ide hanyalah wujud luar dari keinginan itu. Selanjutnya ide-ide itu mempunyai perwujudannya sebagai benda-benda khusus. Pengetahuan sehari-hari adalah  pengetahuan praktis yang berhubunan dengan benda-benda itu. Tapi ada pengetahuan yang lebih tinggi kedudukannya, yakni yang diperoleh bilamana pikiran diarahkan kepada ide-ide dan merenungkannya demi ide – ide itu sendiri. Dengan melalui perenungan semacam ini lahirlah karya seni. Seniman besar adalah seseorang yang mampu dengan perenungannya itu menembus segi-segi praktis dari benda-benda di sekelilingnya dan sampai pada maknanya yang dalam, yakni memahami ide-ide di baliknya.

D.          Teori Psikologis
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak di atas taraf manusiawi dengan konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metde-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seorang seniman, sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang di wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu.

Suatu teori lain tentang sumber seni ialah  teori permainan (play theory) yang dikembangkan oleh Friedrich Schiller (1759-1850) dan Herbert Spencer (1820-1903). Menurut schiller asalmula seni adalah dorongan dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyenangkan segenap kemampuan mental manusia berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan . bagi Spencer permainan itu berperan untuk mencegah kemampuan-kemampuan mental manusia menganggur dan kemudia menciut karena disia-siakan. Seseorang yang semakin meningkat taraf kehidupannya tidak memakai habis energinya untuk keperluan sehari-hari, kelebihan tenaga itu lalu menciptakan kebutuhan dan kesempatan untuk melakukan rangkaian permainan yang imaginatif dan kegiatan yang akhirnya menghasilkan karya seni. Teori permainan tentang seni tidak sepenuhnya diterima oleh para ahli estetik. Keberatan pokok yang dapat diajukan ialah bahwa permainan merupakan suatu kreasi, padahal seni adalah kegiatan yang serius dan pada dasarnya kreatif.

Sebuah teori lagi yang kiranya dapat digolongkan dalam teori psikologis ialah teori penandaan (signification theory ) yang memandang seni sebagai suatu lambang atau tanda dari perasaan manusia. Simbol atau tanda yang menyerupai benda yang dilambangan disebut iconic sign (tanda serupa), misalnya tanda lalu-lintas yang memperingatkan jalan yang berbelok-belok dengan semacam huruf Z adalah suatu tanda yang serupa atau mirip dengan keadaan  jalan yang akan dilalui. Menurut teori penandaan itu karya seni iconic  sign dari proses psikologis yang berlangsung dalam diri manusia, khususnya tanda-tanda dari perasaannya. Sebagai contoh sebuah lagu dengan irama naik turun dan alunan cepat-lambat serta akhirnya berhenti adalah simbol atau tanda dari kehidupan manusia dengan belbagai perasaanya yang  ada pasang-surutnya serta saat tergesa-gesa atau santainya dan ada akhirnya.

E.            Teori Suasana Lingkungan
Abad 18 merupakan titik awal dari perubahan besar terhadap filsafat keindahan dan filsafat seni dengan lahirnya istilah ‘aesthetica’, munculnya pengertian seni indah, adanya ukuran baku tersendiri dalam estetik, runtuhnya teori proporsi tentang keindahan, tertariknya perhatian orang terhadap pengalaman estetis dan dimulainya penelaahan dengan metode-metode empiris. Suatu perkembangan lainnya lagi yang penting ialah timbulnya gagasan tentang otonomi seni.

Perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam abad 19 mengakibatkan semakin besarnya perhatian orang terhadap kedudukan, peranan dan hubungan seni dengan masyarakat lingkungannya. Sebagian filsuf, ahli estetik dan seniman terutama di Perancis mencanangkan ajaran bahwa seni adalah otonom, dapat berdikari dan memiliki tujuan sendiri. Seni tidak perlu mengabdi pada sesuatu apapun di luarnya dan karena itu tidak boleh dinilai dengan ukuran-ukuran baku yang tidak bercorak estetis seperti misalnya pertimbangan-pertimbangan moral, politik atau keagamaan. Bagi para seniman sendiri seni merupakan panggilan hidupnya dan tugas mereka hanyalah menyempurnakan hasil karyanya terutama keindahan bentuknya. Doktrin itu semakin lama semakin diagung-agungkan sehingga menjadi suatu pandangan hidup atau aliran pemikiran yang disebut aestheticism antara tahun 1820 – 1830. Ajaran tersebut menjadi sangat terkenal dengan semboyannya l’art pour l’art yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi art for art’s sake (seni demi seni itu sendiri). Semboyan termasyhur itu pertama kali dipergunakan oleh filsuf Victor Cousin (1792-1867). Pertentangan pendapat antara pendykung dan penentang otonomi seni  yang mutlak terjadi sampai ke Jerman dan Inggris.

Dalam abad 20 ini fisuf Amerika yang terkenal John Dewey (1859-1952) menganut teori suasana lingkungan (contextualist theory) bagi seni beliau menentangpemisahan seni dari segi-segi kehidupan yang lainnya dan menekankan hubungan terusmenerus di antara keduanya.  Menurut John Dewey seni tersatupadukan begitu erat dengan lingkungan hidup yang menumbuhkannya dan dalam lingkungan itu seni dinikmati. Dengan demikian seni hanyalah dapat dimengert dalam rangka makna sosial yang terkandung di dalamnya.

F.            Sifat Dasar Seni
Pelbagai teori yang dikemukakan di atas menunjukkan pertentangan-pertentangan yang ada dalam filsafat seni. Teori bentuk berlawanan dengan teori pengunkapan, teori metafisis ditentang oleh teori psikologis dan aestheticism tidak sepaham dengan teori suasana lingkungan . teori-teori itu karena masing-masing hanya menekankan sesuatu segi yang dipandang terpenting juga tidak membemberi penjelasan yang lengkap mengenai sifa dasar seni (nature) dari seni. Oleh karena itu perlulah diberikan suatu uraian tentang ciri-ciri yang paling umum dari seni sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai apa, bagaimana dan kemana sesungguhnya seni pada dewasa ini ?

Menurut kesimpulan yang dapat kami buat dari pengamatan, pembacaan, dan pemikiran selama ini, seni sekurang-kurangnya mempunyai 5 ciri-ciri yang sebagai kebulatan merupakan sifatdasar seni :

1)           Kreatif
Seni yang sejati senantiasa kreatif. Ini berarti bahwa seni sebagai rangkaian kegiatan manusia selalu menciptakan realita baru, yakni sesuatu apa pun yang tadinya belum terdapat atau terlintas dalam kesadaran seseorang. Apabila seseorang membuat lukisan batik dengan motif, pola dan kombinasi yang belum pernah diciptakan oleh seseorang pelukis lain, maka ini adalah seni. Kalau ia hanya melukis  ulang karya batik yang telah dibuat oleh orang lain, maka ia hanya melaksanakan suatu kerajinan batik. Demikian pula kalau misalnya sekarang dibangun sebuah candi baru yang sama persis denganCandi Borobudur karena yang asli itu sudah tidak dapat diperbaiki lagi, maka ini juga hanya merupakan kerajinan batu dan bukan seni.

2)           Individual
Seni senantisa dilakukan oleh individu tertentu, satu individu khas. Suatu seni kolektif atau seni massa tidaklah ada. Dengan demikian setiap karya  seni harus senantiasa hasil ciptaan pelukis A(ffandi), novel karangan B(osje), sajak gubahan C(hairil) dan seterusnya. Demikian pula sebaliknya penikmatan terhadap suatu karya seni juga bersifat perorangan. Pengalaman estetis adalah pengalaman dari masing-masing individu yang bisa sama tapi juga bisa berbeda. Bilamana suatu keluarga misalnya bersama-sama menikmati dan mengagumi sebuah lukisan dalam musium, penikmatan itu dinikmati sendiri. Pengaguman kolektif tidaklah pula ada betapa pun erat hubungan batin di antara suami, isteri dan anak-anak itu.

3)           Perasaan
Ciri ketiga ialah bahwa seni bersangkutpaut dengan persaan masing-masing yang diungkapkan dengan perasaan masing-masing. Apa yang diungkapkan oleh seseorang seniman dalam atau melalui karya seninya ialah perasaannya. Demikian pula apa yang digetarkan oleh karya seni dalam diri seorang pengamat adalah tak lain emosi. Oleh krena itu penilaian terhadap karya seni perlulah dilakukan berdasarkan perasaan estetis dan ukuran nilai estetis. Bagi karya seni tidak ada pengertian benar atau salah menurut pertimbangan akal manusia. Demikian pula tidaklah tepat menghukum sesuatu karya seni berdasarkan ukuran kesusilaan, keagamaan atau pertimbangan-pertimbangan lainnya yang non estetis.

4)           Keabadian
Ciri seni yang kempat ialah  keabadian. Sekali suatu  karya seni selesai diciptakan, realita baru itu tetap langgeng walapun seniman penciptanya sudah tidak ada lagi. Sebuah bangunan arsitektur dapat dimusnahkan atau karya sastra dibakar, tapi penciptaanitu tidak dapat dibatalkan seperti halnya putusan pengadilan negeri dibatalkan oleh pengadiln tinggi. Inilah sifat abadi dari seni. Seorang ahlli estetik sampai mengatakan bahwa seniman adalah satu-satunya pemenang dalam perjuangan manusia melawan waktu.

5)           Bersifat semesta
Ciri seni yang terakhir adalah bersifat semesta dari seni itu dan seni muncul di mana-mana tumbuh sepanjang masa, karena manusia mempunyai perasaan dan seni adalah semacam bahasa yang mengungkapkan perasaan itu. Suku bangsa dimana pun yang paling primitif mungkin tidak memiliki agama, tidak bisa berhitung dan masih buta huruf, tapi tentu mempunyai suatu seni seperti seni tari, menghiasi tobaknya ataupun hanya memuku gendang. Jadi karya seni diciptakan dan berkembang di seluruh dunia tnpa ada hentinya. Ini dapat terjadi karena seni mempunyai nilai bagi kehidupan manusia.

Demikianlah ciri-ciri umum dan paling pokok yang merupakan sifatdasar dari seni. Dengan sifatdasar yang demikian itu seni menjadi suatu penawar untuk menghilangkan kesenadaan dalam hidup manusia. Bahkan banyak ahli estetik sependapat bahwa seni denganxsegenap hasil karyanya telah meningkatkan mutu dan memerkaya kehidupan manusia. Oleh karena itu minat terhadap estetik akhir-akhir ini tumbuh terus, yakni semakin banyak pelajaran, buku, majalah dan perhimpunan serta kegiatan orang yang dicurahkan kepada seni.


    Ki Slamet 42  
Minggu, 02 Febuari 2020 – 13.56 WIB
R e f e r e n s i :
The Liang Gie, GARIS BESAR ETETIK (Filsafat Keindahan)
Fakultas Fisafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta 1976

"P U A S A" By Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid

http://kertasinga.blogspot.com-Senin, 05 April 2021-13:02 WIB Definisi Shiyam) 1 Shiyam dan shaum secara bahasa adalah menahan diri dari...

"KONTEN ENTRY BLOG"