Rabu, 29 Januari 2020

The Liang Gie : "FILSAFAT KEINDAHAN 6"

Blog Ki Slamet 42: Guru SMPIT Annur Cimande Menulis
Kamis,  30 Januari 2020 - 10.26 WIB


I.        PENGALAMAN ESTETIS

A.     Pengertian dan Ciri-ciri

Sesuatu benda baik itu gejala alam maupun karya ciptaan manusia dapat disebut benda estetis apabila memiliki nilai estetis. Dan benda itu dikatakan bernilai estetis bilamana mempunyai kapasitas untuk menimbulkan tanggapan estetis pada diri orang yang mengamatinya. Tanggapan estetis dalam bahasa Inggris disebut aesthetic response. Tapi kini istilah aesthetic experience (pengalaman estetis) lebih banyak dipakai untuk menyebut tanggapan seseorang terhadap benda yang bernilai estetis itu. Jadi nilai estetis adalah kemampuan dari sesuatu benda apapun untuk menimbulkan pengalaman estetis pada orang yang mengamati benda itu.

Pengalaman estetis dari seseorang adalah persoalan psikologis yang kini banyak pula dibahas dalam estetik. Problem pokok yang dipersoalkan oeh ahli-ahli pikir ialah bagaimanakah seseorang sebagai pengamat, menanggapi sesuatu benda indah atau karya seni? Orang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kwalita dari benda estetis itu. Terutama para ahli psikologi berusaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat dan lengkap semua gejala mental yang berhubungan dengan karya seni. Yang diselidiki khususnya adalah pelbagai dorongan batin. Yang diselidiki khususnya adalah dorongan batin, suasana kalbu, proses pengkhayalan dan pencerapan inderawi secara terperinci yang menjadi syarat bagi terciptanya maupun dinikmatinya karya seni itu.

Persoalan tentang pengalaman estetis seseorang yang menikmati suatu hal yang indah seperti misalnya pengamat dari suatu pemandangan, pendengar dari sebuah lagu dan pembaca dari sejilid novel adalah serumit problem tentang keindahan. Pelbagai pendapat yang saling berbeda atau bertentangan dikemukakan oleh ahli pikir, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa pengalaman khas yang bercorak estetis sesungguhnya tidak ada. Suatu pendapat menyatakan bahwa pengalaman estetis mempunyai corak seperti penyeimbangan dari dorongan-dorongan hati yang terjadi karena menikmati suatu karya seni. Sebuah pendapat lain menganggap pengalaman estetis sebagai suatu keselarasan dinamis dari perenungan yang menyenangkan, dalam keselarasan itu seseorang memiliki perasan-perasaan seimbang dan tenang, mencapai cita rasa dan sesuatu yang terakhir dan merasa hidup sesaat di tengah-tengah kesempurnaan yang dengan senang hati ingin diperpanjangnya. Lebih jauh lagi ada yang sampai menghubungkan saat-saat pengalaman estetis itu dengan pandangan mistik, yakni apabila sipengamat menjadi satu dengan karya seni yang dilihatnya, dan tak merasa adanya dirinya.

Pendapat yang banyak dikemukakan tentang ciri-ciri pengalaman estetis menyatakan bahwa syarat yang menentukan adanya pengalaman estetis ialah sifat tidak berkepentingan (disinterested) dari pengamatan yang bersangkutan, yaitu pengamatan terhadap benda estetis tanpa sesuatu tujuan apa pun di luar perbuatan pengamatan itu sendiri. John Hospers menyebut perbuatan yang demikian itu mencerap demi pencerapan (perceive for perceiving’s sake) atau juga pencerapan demi untuk pencerapan itu sendiri (perceiving for its own sake) dan tidak untuk keperluan sesuatu maksud yang lebih jauh. Pengamatan yang demikian itu terjadi berdasarkan sikap yang bukan sikap praktis, sikap ilmiah maupun sikap melibatkan diri.  Apabila seseorang mengamati indah dari suatu teluk dengan maksud untuk membangun hotel hotel  dan memajukan pariwisata, ini adalah sikap praktis yang bertalian dengan kegunaan dari pantai itu. Bilamana seseorang mendengarkan sebuah lagu zaman dulu untuk diselidiki asal-usulnya dari bangsa mana, abad berapa dan dengan alat musik apa, ini yang bertalian dengan kegunaan dari pantai itu. Bilamana seseorang mendengarkan sebuah lagu zman dulu untuk diselidiki asal-usulnya dari bangsa mana, abad berapa dan dengan alat musik apa, ini merupakan sikap ilmiah yang menyangkut penambahan pengetahuan seseorang. Akhirnya kalau seseorang membaca sebuah novel dan mempersamakan nasibnya dengan kemalangan seseorang yang diceritakan dalam karya sastra itu, maka ini adalah sikap melibatkan diri yang akan merintangi pengalaman estetis. Ketiga macam sikap itu bukanlah tanggapan yang menimbulkan pengalaman estetis. Dalam mencerap, menanggapi dan akhirnya mengalami secara estetis orang mengarahkan perbuatannya dan mencerap apa-apa yang disajikan oleh benda estetis yang bersangkutan. Jadi suatu pengalaman bersifat estetis bilamana dinikmati sebagai pengalaman yang sudah lengkap dalam dirinya tanpa ada hubungan dengan sesuatu di luarnya. Dalam hal ini pengalaman estetis lalu merupakan suatu nilai intrinsik.

Pengalaman estetis bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya timbul atau mudah dipertahankan. Untuk mendapatkannya orang harus memusatkan perhatiannya yang penuh dan kesadaran inderawinya yang sungguh-sungguh terhadap suatu benda estetis berikut pelbagai sifat di dalamnya dan bukan hubungan-hubungan benda itu dengan hal-hal lain di luarnya. Terhadap hal ini terdapat banyak hambatan atau gangguan. Tiga rintangan berupa sikap praktik, sikap ilmiah dan sikap melihatkan diri telah disebutkan di atas. Masih ada gangguan-gangguan lainnya yang bersifat emosional terhadap timbulnya perasaan estetis, yakni apabila pada seseorang terdapat hasrat yang menyala-nyala untuk menikmati karya seni, kesadaran diri yang berlebih-lebihan dalam penikmatan itu.

Pada benda estetis sendiri, Stephen Pepper berdasarkan hampiran psikologis menyebutkan adanya dua musuh dari pengalaman estetis, yaitu kesenadaan (monotny) dan kekacaubalauan (confusion). Untuk mengatasi kedua faktor yang mencegah atau merusak pengalaman estetis itu, dalam karya seni yang baik harus diusahakan adanya keanekaan (variety) dan kesatuan (unity) yang seimbang. Minat seseorang terhadap suatu benda estetis tidak dapat dipertahankan terus dengan pengulangan-pengulangan  yang senada, karena itu harus diusahakan keanekawarnaan. Tapi vapi variasi itu harus berdasarkan kesatuan tema, karena keanekawarnaan yang semena-mena akan menimbulkan suasana kacaubalau. Jadi untuk memelihara pengalaman estetis seseorang dalam menikmati sesuatu benda estetis, faktor kesenadaan harus diimbangi dengan variasi, sedang faktor kekacaubalauan diatasi dengan kesatuan.

B.     Teori Pengalaman Estetis

Karena tdak puas dengan teori-teori keindahan yang ada, ahli-ahli estetik mencari pula teori mengenai pengalaman estetis untuk untuk menjelaskan perasaan puas  atau menyenangkan yang dinikmati seseorang bilamana mengamati suatu benda estetis. Salah satu pendapat yang sangat terkenal dan selama puluhan tahun mempunyai pengaruh besar dalam estetik ialah teori tentang Einfühlung. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang gurubesar Jerman Friedrich Vischer (1807-1887) dan kemudian dikembangkan selengkapnya oleh Theodor Lipps (1851-1914) dalam bukunya berjudul Aesthetic (2 jilid).

Istilah Einfühlung kini telah lazimditerjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi empathy . istilah-istilah lainnya yang pernah dipakai ialah introjection, autoprojection  dan symbolic symphaty. Einfühlung berarti keadaan merasakan diri sendiri ke dalam sesuatu hal, yakni dari tata kerja sich einfühlen (to feel oneself into) yang artinya merasakan diri sendiri ke dalam (sesuatu). Pada pokoknya teori Einfühlung adalah suatu teori tentang pemancaran perasaan diri sendiri ke dalam benda estetis.

Menurut pendapat Vischer seorang pengamat karya seni (atau benda estetis apapun) cenderung untuk memancarkan atau memproyeksikan perasaannya ke dalam benda itu, menjelajahi secara khayal bentuk dari benda tersebut dan dari kegiatan itu menikmati suatu rasa menyenangkan.

Berdasarkan ide pokok itu Lipps mengembangkan lebih lanjut secara terperinci teori Einfühlung. Bagi Lipss proses pemancaran perasaan ke dalam suatu benda itu tidak semata-mata bersifat subyektif yang tergantung pada si pengamat, melainkan juga obyektif berdasarkan sifat-sifat dari karya seni yang bersangkutan. Dalam garis besarnya teori Lipss menyatakan bahwa kegiatan estetis adalah kegiatan seseorang yang memproyeksikan perasaannya ke dalam suatu karya seni dan dari situ timbul suatu emosi estetis khas yang terjadi karena perasaan itu menemukan suatu kepuasan atau kesenangan yang disebabkan oleh bentuk obyektif dari karya seni tersebut. kegiatan pengamat itu adalah suatu aktivita psikis yang berlangsung dalam suatu situasi psikologis, yakni seseorang berhadapan dengan sebuah karya seni. Nilai dari tanggapan subyektif orang itu tergantung pada kwalita obyektif dari benda estetis yang ersangkutan.

Dalam buku E.F. Carrit (The Theory of Beauty) inti teori Lipss itu dirumuskan sebagai berikut :

“Aesthetic pleasure is an enjoyment of our own activity in an object. This statement, apparently a contradiction in terms, is explained to mean that we enjoy ourselves as objectfied, or enjoy an object so far as we live in it.”
( “Kesenangan estetis adalah suatu penikmatan dari kegiatan kita sendiri di dalam suatu benda.  Pernyataan ini yang kelihatannya merupakan suatu pertentangan dalam kata-kata, sebagaimana diterangkan berarti bahwa kita menikmati diri kita sendiri bilamana diobyektifkan, atau menikmati suatu benda sejauh kita hidup di dalamnya.”)

Dalil tentang kesenangan estetis tersebut di atas dapatlah dijelaskan dengan contoh-contoh yang berikut. Apabila seseorang mengamati sebuah tiang yang besar dan kokoh dari suatu gedung dan memancarkan perasaannya ke dalam tiang itu sehingga seolah-olah hidup di dalamnya, maka ia akan merasakan bahwa dirinya juga besar dan kokoh serta menikmati rasa senang sebagai pengalaman estetisnya. Contoh lain bilamana seseorang memproyeksikan dirinya ke dalam perahu dan nelayan yang sedang diombang-ambingkan oleh gelombang besar seperti terlihat misalnya pada karya seni ukiran kayu yang diberi judul “Ombak Besar” karya Katsushika Hokusai (1760 – 1840)  di bawah ini. Ia juga lalu merasakan bahaya yang mengamuk, ketegangan batin dan rasa takut yang berlangsung. Perasaan simpatinya terhadap kemalangan para nelayan itu menimbulkan kesenangan estetis yang bersumber pada Einfühlung

Gambar 4 “Ombak Besar”
Image "Ombak Besar" ( Foto: SP)
Ukiran kayu berwarna karya Katsushika Hokusai (1760-1840)

Teori Einfühlung atau emphaty itu dalam perkembangan selanjutnya mempunyai variasi penjelasan dari bebeberapa ahli estetik lain. Misalnya ada penjelasan dari beberapa ahli estetik lain. Misalnya ada penjelasan bahwa benda estetis yang memenuhi asas-asas perimbangan dan kesetangkupan umumnya disukai orang karena dianggap indah, tapi sebaliknya bentuk-bentuk yang tak seimbang atau tak pasti akan menimbulkan perasaan tegang atau tekanan kebingungan dalam diri seseorang karenanya dianggap tidak menyenangkan. Dalam sebuah buku istilah empatthy diberi batasan sebagai “the emotional identification of one’s self with the perceived objects” (penyamaan diri sendiri secara emosionil dengan benda-benda yang dicerap.)

Sebuah teori lain yang namanya dan penjelasannya berlawanan dengan teori tentang pemancaran diri ke dalam benda ialah teori tentang jarak psikis ( psychical distance) dari Edward Bullough dalam tulisannya “Psychical Distance as a Factor in Art and Aesthetic Principle”. Dengan mempergunakan pula metode intropeksi dari psikologi (yakni pengamatan diri dengan jalan merenungkan pengalaman-pengalaman sendiri ). Bullough berpendapat bahwa untuk menumbuhkan pengalaman yang berhubungan dengan seni orang justru harus menciptakan jarak psikiss di antara dirinya dengan hal-hal apa pun yang dapat mempengaruhi dirinya itu. Hal-hal yang dapat mempengruhi diri seseorang misalnya ialah segi-segi kegunaan dari sesuatu benda untuk keperluan atau tujuan orang itu. Kebutuhan dan tujuan praktis itu harus dikeluarkan agar perenungan dan tinjauan seseorang secara estetis terhadap bendanya itu semata-mata menjadi mungkin. Dalam kata-kata Bullough jarak psikis itu mempunyai peranan rangkap yang berikut :

“The working of Distance is, accordingly, not simple, but highly complex. It has a negative, inhibitory aspect – the cutting – out  of the practcal sides of things and of our practical attitude to them – and a positive side – the elaboration of the experience on the new basis created by the inhibitory action of distance.”
( Bekerjanya Jarak itu tidaklah sederhana melainkan sangat rumit. Ini mempunyai segi negatif yang merintangi – yaitu peniadaan segi-segi praktis dari benda-benda dan sikap praktis kita terhadap benda-benda itu – dan suatu segi positif – yakni penyempurnaan terhadap pengalaman berdasarkan landasan baru yang diciptakan oleh tindakan peniadaan dari jarak itu).

Menurut Bullough psychical distance itu dapt dianggap sebagai salah satu ciri pokok dari kesadaran estetis. Kesadaran ini ialah sikap mental terhadap dan tinjauan yang khusus mengenai pengalaman yang memperoleh pengungkapanya yang paling subur dalam pelbagai bentuk seni.   

    Ki Slamet 42  
Kamis, 30 Januari 2020 – 08.48 WIB
R e f e r e n s i :
The Liang Gie, GARIS BESAR ETETIK (Filsafat Keindahan)
Fakultas Fisafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta 1976

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"P U A S A" By Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid

http://kertasinga.blogspot.com-Senin, 05 April 2021-13:02 WIB Definisi Shiyam) 1 Shiyam dan shaum secara bahasa adalah menahan diri dari...

"KONTEN ENTRY BLOG"